Kelompok Studi Komunikasi Pascasarjana Unpad

Bersama Kita Berkarya Memimpin Dunia

Arsip untuk ‘Sosiologi Komunikasi’ Kategori

Jadilah Pengamen yang Simpatik dan Menghibur

Ditulis oleh yokata11 di/pada Maret 24, 2009

Jadilah Pengamen yang Simpatik dan Menghibur
Oleh: Drs. H. Kawiyan

Sebagai pengguna kendaraan umum (bus, metro mini, atau kopaja), saya sering menjumpai pemusik atau seniman jalanan yang lebih dikenal dengan sebutan “pengamen”. Tidak hanya di Jakarta, pengamen atau pemusik jalanan ini juga banyak ditemui di daerah lain, termasuk di Tegal, Slawi dan di Brebes. Biasanya mereka melakukan kegiatan di lampu-lampu merah, di restauran atau di tempat umum lainnya.
Ada pengamen yang membawakan lagu-lagu dengan baik, mengena di hati dan sesuai “selera” penumpang. Ada juga pengamen yang simpatik dan sopan sehingga banyak penumpang yang tidak keberatan merogoh kantongnya untuk sekadar memberi uang receh, kalau tidak Rp 1.000, ya Rp 500.
Akan tetapi tidak jarang juga saya jumpai pengamen yang menyebalkan. Penampilannya tidak sopan dan awut-awutan. Selain itu, lagu-lagu yang mereka bawakan juga asal-asalan, tidak sesuai dengan “selera” penumpang.
Saya tidak membenci pengamen. Saya justru sangat menghargai anak-anak muda (mungkin di antara mereka ada juga teman-teman saya, apakah itu teman se-daerah maupun teman sekolah) yang karena memiliki bakat seni musik dan dalam kondisi ekonomi yang “mendesak” harus memilih sebagai pengamen. Karena itulah, melalui tulisan ini, saya ingin memberi masukan kepada teman-teman yang “berprofesi” sebagai pengamen. Anggap saja tulisan ini sebagai bentuk “curhat” antara saya dengan teman-teman pengamen.
Sebagai sebuah pekerjaan, mengamen pun perlu jurus atau–istilah kerennya— strategi. Strategi atau jurus ini diperlukan agar masyarakat dapat menerima kehadiran pengamen dan terhibur. Sudah mereka dapat menerima kehadiran pengamen dan merasa terhibur, mereka tidak akan “pelit” sekadar mengulurkan uang receh—entah lima ratus, seribu, atau lima ribu rupiah. Berikut adalah beberapa jurus menjadi pengamen yang simpatik.
Pertama: memberi salam. Sebelum mulai mengamen, tegur atau sapalah penumpang dengan sopan. Ucapkan assalamu’alaikum, selamat pagi, selamat siang, selamat sore, atau sugeng enjing. Sampaikan permohonan maaf, jika kehadirannya di kendaraan umum ini mengganggu penumpang. Sampaikan bahwa anda berharap para penumpang dapat terhbur denga lagu-lagu yang anda bawakan. Tentu saja, salam pembuka ini tidak perlu panjang-lebar karena justru akan membosankan.
Kedua, pilih lagu yang tepat. Lagu-lagu yang lagi hits biasanya disukai banyak orang, termasuk pengguna kendaraan umum atau pengunjung tempat makan yang menjadi sasaran pengamen. Seperti saat ini, lagu-lagu yang sedang hits, misalnya: Aku Mau (Once), Di Antara Kalian (D’Massiv), Dengan Nafas-Mu (Ungu), Pada-Mu Kubersujud (Afgan), dan Racun (Changcuther). Lagu-lagu nostalgia (lagu kenangan) seperti Widuri-nya Broery Pesulima atau Kisah Sedih di Hari Minggu-nya Koes Ploes juga banyak digemari. Selain itu lagu-lagu berisi kritik sosialnya Iwan Fals juga punya banyak penggemar. Suatu sore di sebuah bus kota, saya menyaksikan seorang pengamen menyanyikan lagu Suatu Sore di Tugu Pancoran (Iwan Fals). Lirik dan syair lagu tersebut sangat menyentuh hati, dan dibawakan dengan apik oleh pengamen. Saat pengamen bernyanyi, sebagian penumpang seperti ikut bernyanyi. Sebagian lagi mengikuti dalam hati syair lagu yang dibawakan pengamen itu. Alhasil, usai menyanyikan lagu, sebagian besar penumpang bus memberinya uang dan tampak sangat menikmati “persembahan” pengamen tersebut. Ini adalah contoh bahwa penampilan atau “servis” yang mengesankan akan membawa hasil yang meuaskan pula.
Jangan lupa pula bahwa lagu-lagu Rhoma Irama, khususnya di daerah Tegal, Slawi dan Brebes juga banyak digemari. Lagu-lagu religi juga banyak penggemarnya. Lagu-lagu religinya Opics, Gigi, atau Afgan banyak digemari dan syairnya menyentuh hati. Biasanya lagu religi (Islam) yang pemggemarnya banyak. Lagu-lagu rohani (non Islam) tentu saja kurang diminati karena dalam satu bus atau kendaraan umum atau restoran kebanyakan Muslim. Kalau mau menyanyikan lagu daerah juga boleh. Tapi, lihat dulu audiens: siapa sih yang menderngarkan lagu-lagu itu. Hindari anda menyanyikan lagu yang “tidak akrab” dengan audiens.
Ketiga penutup. Usai menyanyi, sebelum mengampiri penumpang untuk meminta “imbalan”, pengamen perlu menyampaikan ucapan terima kasih. Sekali lagi sampaikan permohonan maaf jika kehadirannya mengganggu penumpang dan berharap agar penumpang dapat terhibur. Barulah, pengamen dengan kantong plastik atau topinya berkeliling menghampiri penumpang memungut uang receh. Selamat mencoba semoga menjadi pengamen yang simpatik dan disukai[]

Penulis adalah:
1. Warga Tegal tinggal di Jakarta;
2. Mantan wartawan Liputan 6 SCTV (1996-2007);
3. Bekerja sebagai pengelola TV swasta lokal di Provinsi Banten,
4. Sedang menyelesaikan program S-2 Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung;
5. Calon anggota DPR RI Partai Bintang Reformasi Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX;
6. Wakil Sekjen DPP PBR (2008-2011).

Ditulis dalam Communication World, Sosiologi Komunikasi | Leave a Comment »

Indonesia Ku Kini

Ditulis oleh kskunpad di/pada Agustus 21, 2008

Oleh: Paulinus Freddy SS

Seperti biasanya Mimin (47 Tahun) wanita paruh baya seorang buruh cuci di kawasan kos-kosan daerah Dipati Ukur menyambut Hari Raya Kemerdekaan RI ke 63 dengan mengibarkan bendera merah putih di halaman depan petakan rumah sewaannya yang dihuni bersama suaminya yang seorang pedagang batagor keliling bersama 4 anak mereka. Akan tetapi arti kemerdekaan yang tertuang didalam pembukaan UUD 1945 belumlah sepenuhnya ia rasakan bersama keluarganya, suatu hari setelah hari HUT kemerdekaan RI ia berkeluh bahwa minyak tanah sulit didapat sehingga untuk memasak ia mengganti nya dengan kayu bakar yang dambilnya dari sisa pembangunan sebuah rumah dekat kawasan huniannya sebagai sumber perapian ketika memasak. Sungguh kejadian yang ironis memang diamana dampak program konversi minyak tanah ke gas elpiji telah membawa kesusahan kepada Mimin dan keluarganya. Hal mulia yang termuat ketika program konversi minyak tanah ke gas elpiji ini diluncurkan ternyata berubah menjadi “program konversi minyak tanah ke Kayu Bakar”. Belum lagi lonjakan harga barang serta mahalnya biaya pelayanan dasar bagi masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan yang kemudian membuat ide memunculkan idiom baru, Orang miskin dilarang pandai, atau Orang Miskin dilarang sakit, dan idiom lain nya yang berawalan “Orang Miskin dilarang….”

Kemerdekaan sesungguhnya juga belum seutuhnya dirasakan dalam sendi kehidupan sehari-hari oleh Onah (92 Tahun), nenek tua yang tinggal di Desa Cibodas, Kab. Rancaekek ini hidup disebuah rumah kecil yang reot yang dihuni nya bersama 1 orang anak 2 orang cucunya yang masih kecil. Yang dirasakannya dalam kemerdekaannya hanyalah susahnya mencari makan yang cukup buat kedua orang cucunya karena selama ini ayah sang cucu (bernama Usep) mengidap kelainan penglihatan yang memaksanya tidak bisa optimal dalam mencari nafkah sebagai buruh upah penggarap sawah. Tidak usah Usep bermimpi untuk mengobati penyakitnya, karena hal itu merupakan suatu hal yang muluk baginya ketika menghadapi mahalnya biaya pengobatan bagi orang desa miskin seperti dia.

Penulis yang berkunjung kerumahnya sempat bertukar cerita ketika mendengarkan penuturan Nek Onah yang telah mengalami beberapa pergantian zaman di republik ini, dengan lancar ia bercerita urut-urutan kehidupan zaman penjajahan Belanda, Jepang, Pemberontakan DI/TII, serta pemberontakan PKI yang turut ia rasakan ketika ia masih gadis. Beliau menceritakan bahwa kepedihan dan kesusahan yang dialaminya selama masa-masa itu, namun didalam ceritanya beliau masih bersyukur bisa merasakan suasana damai dan tentram sekarang ini didesanya, dimana hal itu jauh berbeda ia rasakan dahulu ketika penjajahan masih bercokol dan pemberontakan berkecamuk yang efeknya dirasakan sampai didesanya. Beliau bersukur bahwa orang – orang Indonesia aslilah yang mengatur kehidupan bernegaranya.

Ironis, rasa sedih dan marah hal itulah yang penulis rasakan ketika menghadapi realita kehidupan di Indonesia yang dihadapi Mimin dan Nek Onah seperti sekarang ini, ketimpangan sosial-ekonomi yang parah serta bebagai carut marut lainnya masih merupakan masalah kisah klasik yang terus berulang. Kemerdekaan RI yang ke 63 terasa masih jauh dari realita kemerdekaan sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat. Belum lagi beberapa permasalahan yang terlihat mendera bangsa ini, mental korupsi yang sudah bukan lagi mengakar akan tetapi seperti sudah menjadi bagian mentalitas bangsa, upaya mengubah wacana Indonesia untuk tidak lagi menganut asas Pancasila akan tetapi menjadi Negara Agama, dan Gerakan Separatis dan Terorisme yang mengancam kesatuan NKRI, serta masalah ekonomi yang tak kurung ada realisasinya dibalik angka-angka statistik yang disampaikan dalam pidato kenegaraan presiden dimana disampaikan bahwa angka perekonomian naik dan pengangguran menurun.

Sifat optimisme dan kemauan untuk bangkit merupakan hal yang perlu kita kobarkan secara konsisten seperti layaknya para pejuang dahulu kobarkan dalam menghadapi penjajah untuk menghadapi dan memperbaiki berbagai permasalahan yang ada di negeri tempat sang Ibu pertiwi bernaung ini.

Ditulis dalam Kajian, Komunikasi Pembangunan, Sosiologi Komunikasi | Leave a Comment »