Kelompok Studi Komunikasi Pascasarjana Unpad

Bersama Kita Berkarya Memimpin Dunia

Arsip untuk Agustus 21st, 2008

Indonesia Ku Kini

Ditulis oleh kskunpad di/pada Agustus 21, 2008

Oleh: Paulinus Freddy SS

Seperti biasanya Mimin (47 Tahun) wanita paruh baya seorang buruh cuci di kawasan kos-kosan daerah Dipati Ukur menyambut Hari Raya Kemerdekaan RI ke 63 dengan mengibarkan bendera merah putih di halaman depan petakan rumah sewaannya yang dihuni bersama suaminya yang seorang pedagang batagor keliling bersama 4 anak mereka. Akan tetapi arti kemerdekaan yang tertuang didalam pembukaan UUD 1945 belumlah sepenuhnya ia rasakan bersama keluarganya, suatu hari setelah hari HUT kemerdekaan RI ia berkeluh bahwa minyak tanah sulit didapat sehingga untuk memasak ia mengganti nya dengan kayu bakar yang dambilnya dari sisa pembangunan sebuah rumah dekat kawasan huniannya sebagai sumber perapian ketika memasak. Sungguh kejadian yang ironis memang diamana dampak program konversi minyak tanah ke gas elpiji telah membawa kesusahan kepada Mimin dan keluarganya. Hal mulia yang termuat ketika program konversi minyak tanah ke gas elpiji ini diluncurkan ternyata berubah menjadi “program konversi minyak tanah ke Kayu Bakar”. Belum lagi lonjakan harga barang serta mahalnya biaya pelayanan dasar bagi masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan yang kemudian membuat ide memunculkan idiom baru, Orang miskin dilarang pandai, atau Orang Miskin dilarang sakit, dan idiom lain nya yang berawalan “Orang Miskin dilarang….”

Kemerdekaan sesungguhnya juga belum seutuhnya dirasakan dalam sendi kehidupan sehari-hari oleh Onah (92 Tahun), nenek tua yang tinggal di Desa Cibodas, Kab. Rancaekek ini hidup disebuah rumah kecil yang reot yang dihuni nya bersama 1 orang anak 2 orang cucunya yang masih kecil. Yang dirasakannya dalam kemerdekaannya hanyalah susahnya mencari makan yang cukup buat kedua orang cucunya karena selama ini ayah sang cucu (bernama Usep) mengidap kelainan penglihatan yang memaksanya tidak bisa optimal dalam mencari nafkah sebagai buruh upah penggarap sawah. Tidak usah Usep bermimpi untuk mengobati penyakitnya, karena hal itu merupakan suatu hal yang muluk baginya ketika menghadapi mahalnya biaya pengobatan bagi orang desa miskin seperti dia.

Penulis yang berkunjung kerumahnya sempat bertukar cerita ketika mendengarkan penuturan Nek Onah yang telah mengalami beberapa pergantian zaman di republik ini, dengan lancar ia bercerita urut-urutan kehidupan zaman penjajahan Belanda, Jepang, Pemberontakan DI/TII, serta pemberontakan PKI yang turut ia rasakan ketika ia masih gadis. Beliau menceritakan bahwa kepedihan dan kesusahan yang dialaminya selama masa-masa itu, namun didalam ceritanya beliau masih bersyukur bisa merasakan suasana damai dan tentram sekarang ini didesanya, dimana hal itu jauh berbeda ia rasakan dahulu ketika penjajahan masih bercokol dan pemberontakan berkecamuk yang efeknya dirasakan sampai didesanya. Beliau bersukur bahwa orang – orang Indonesia aslilah yang mengatur kehidupan bernegaranya.

Ironis, rasa sedih dan marah hal itulah yang penulis rasakan ketika menghadapi realita kehidupan di Indonesia yang dihadapi Mimin dan Nek Onah seperti sekarang ini, ketimpangan sosial-ekonomi yang parah serta bebagai carut marut lainnya masih merupakan masalah kisah klasik yang terus berulang. Kemerdekaan RI yang ke 63 terasa masih jauh dari realita kemerdekaan sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat. Belum lagi beberapa permasalahan yang terlihat mendera bangsa ini, mental korupsi yang sudah bukan lagi mengakar akan tetapi seperti sudah menjadi bagian mentalitas bangsa, upaya mengubah wacana Indonesia untuk tidak lagi menganut asas Pancasila akan tetapi menjadi Negara Agama, dan Gerakan Separatis dan Terorisme yang mengancam kesatuan NKRI, serta masalah ekonomi yang tak kurung ada realisasinya dibalik angka-angka statistik yang disampaikan dalam pidato kenegaraan presiden dimana disampaikan bahwa angka perekonomian naik dan pengangguran menurun.

Sifat optimisme dan kemauan untuk bangkit merupakan hal yang perlu kita kobarkan secara konsisten seperti layaknya para pejuang dahulu kobarkan dalam menghadapi penjajah untuk menghadapi dan memperbaiki berbagai permasalahan yang ada di negeri tempat sang Ibu pertiwi bernaung ini.

Ditulis dalam Kajian, Komunikasi Pembangunan, Sosiologi Komunikasi | Leave a Comment »

Ketika Artis Masuk Politik

Ditulis oleh kskunpad di/pada Agustus 21, 2008

Oleh : Paulinus Freddy SS

Euphoria demokrasi di Indonesia selama Pilkada 2008 terutama mejelang Pilpres 2009 mendatang membawa wacana unik yang di blow up dan ditangkap peluang nya oleh partai-partai politik. Ramainya figur-figur selebritis yang kadung lekat dengan masyarakat terutama artis-artis sinetron nasional berbondong-bondong mencemplungkan dirinya kedalam aktivitas politik menjadi fenomena unik tersendiri yang mewarnai wacana demokrasi di negeri ini. Dari segi efektivitas sebenarnya peluang artis-artis ini untuk sukses sebagai “pengeruk suara” cukup besar, dengan modal ketenaran dan dikenal masyarakat, dimana para artis yang kemudian berkecimpung didunia politik diharapkan mampu menciptakan posisi sebagai votegetter terhadap massa suatu daerah pemilihan.

Fenomena artis masuk kekancah politik sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru di negeri ini. Beberapa artis memang ada yang telah lama menekuni bidang politik sebagai aktivitas barunya, sebut saja (Alm.) Sophan Sophian, H. Rhoma Irama, Adjie Massaid, dll. Akan tetapi action para artis ketika masuk kedalam dunia politik diatas tidaklah seperti sekarang ini, yang terlihat sangat memanfaatkan momentum terutama ketika Rano Karno dan Dede Yusuf sukses di Tahun 2008 ini dalam kegiatan politiknya. Dalam tatanan ilmu komunikasi, fenomena figur artis yang berkecimpung di dunia politik ini bisa dimasukkan kedalam ranah teori Two-Step Flow Communication Theory jika dilihat posisi mereka sebagai figur yang dikenal publik yang didalam misinya didunia politik terutama di partai politik yang menaunginya sebagai oinion leader ketika berkampanye terhadap massa masyarakat secara daerah atau nasional.

Namun hal ini sebenarnya perlu juga dicermati dengan baik dan seksama, karena apabila ditilik dari sisi kredibilitas politik individu artis – artis yang berkecimpung di kancah politik ini, tidak semuanya memiliki pengalaman dan track record yang cukup secara signifikan didalam berjuang menyuarakan suara rakyat sebelumnya. Tanpa bermaksud menjadi sinis menanggapi dinamika kehidupan berpolitik di negeri ini, akan tetapi janganlah wacana selebritis terjun kedalam kancah politik hanya menjadi retorika dagangan partai politik semata yang kemudian menjadi salah kaprah ketika hal ini menjadi ajang pembuktian ego dan ambisi individu sang selebritis semata tanpa realisasi diantara janji-janji muluk dan seliweran kalimat dagangan politik semata untuk membodohi masyarakat.

Ditulis dalam Kajian, Komunikasi Politik | Leave a Comment »