Kelompok Studi Komunikasi Pascasarjana Unpad

Bersama Kita Berkarya Memimpin Dunia

Menyoal Pro dan Kontra Kenaikan BBM

Sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam menaikkan harga BBM bisa kita lihat dari pidato Presiden SBY. Dalam pidatonya, Presiden Susiso Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa ada dua macam krisis tingkat dunia, yakni krisis harga minyak dan krisis harga pangan. Dengan adanya dua factor tersebut di atas, pemerintah Republik Indonesia berencana untuk menaikkan harga BBM. Namun, jika pemerintah bersikeras menaikan harga BBM, maka masyarakat lapis bawah akan tambah bingung dan semakin terbebani pikirannya.

Pemerintah memang sudah memiliki program Bantuan Langsung Tunai untuk mengantisipasi kebingungan masyarakat jika harga BBM dinaikkan. Namun menurut hemat penulis, efektifitas BLT sangatlah kurang bahkan bisa dikatakan tidak tepat sasaran. BLT ini bisa mengakibatkan “budaya mengemis” pada masyarakat Indonesia. Masyarakat hanya menerima bantuan tanpa berpikir bagaimana mengatasi masalah hidup mereka. Mungkin pepatah orang bijak akan kegiatan memberi bantuan yang paling tepat yaitu “Berikan Kail, bukan Ikannya.” Jadi dalam hal memberikan bantuan, seharusnya pemerintah memberikan alat untuk meningkatkan taraf hidup masyarat (kailnya) seperti keahlian, alat bantu untuk bekerja, dll. Bukan memberikan uang atau bahan sembako secara langsung.

Ketua Fraksi Partai Demokrat Syarief Hassan, mengatakan bahwa menaikkan BBM adalah alternatif terakhir demi menyelamatkan APBN dalam skala luas. Syarif menjelaskan bahwa sepertiga dana APBN habis untuk mensubsidi BBM. Apabila pemerintah tidak mengambil keputusan untuk menaikan BBM bersubsidi, maka perekonomian Indonesia akan jatuh sebesar 5,5 %.

Berbeda halnya dengan Syarief, Ramson Siagian mengatakan bahwa jika pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM, maka ada kenaikkan tingkat inflasi dan industri manufacturing akan ambruk. Angka kenaikkan inflasi yang akan terjadi yaitu sebesar 13 %. Pada saat ini saja daya beli rakyat sedang anjlok, apa yang akan terjadi apabila harga BBM dinaikkan.

Dampak kenaikan BBM memang banyak sekali merugikan rakyat, terbukti dari kasus kenaikkan BBM pada tahun 2005, di mana kenaikkannya sampai 120 % sehingga tingkat inflasi mencapai 17.5 %. Selain itu kenaikkan BBM juga menimbulkan kemiskinan, pada saat itu meningkatkan angka kemiskinan hingga 40 juta orang. Kemudian akibat lainnya yaitu produksi minyak menurun sejak saat itu.

Wakil Presiden Yusuf Kalla mengatakan bahwa jika BBM tidak dinaikkan, berarti rakyat mensubsidi BBM untuk orang-orang kaya. Namun DPR menolak kenaikkan BBM, karena sebenarnya dari data yang ada setelah BBM naik rakyat menderita. Imam Prasodjo, Sosiolog Universitas Indonesia, mengatakan 20 % orang kaya Indonesia semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Tolak ukurnya dari daya beli dan konsumsi. Di sini telah terjadi “Fenomena Gunung Es” di mana tingkat atas atau kalangan atas tidak terlalu merasakan efek dari kenaikkan harga BBM ini. Melainkan rakyat miskin sangat merasakan penderitaan akibat kenaikkan harga BBM ini.

Sebelum harga BBM naik saja sudah banyak dampak yang terlihat pada rakyat menengah ke bawah. Kasus-kasus yang terjadi adalah kasus bunuh diri, kebingungan, sakit jiwa, stress karena kenaikan BBM. Mungkin kita bisa menggunkan salah satu local wisdom di Negara ini dalam menghadapi kenaikkan harga minyak dunia yaitu seperti sistem “lumbung padi” sebagai tameng (emergency rescue). Indonesia seharusnya semakin gencar memproduksi minyak di dalam negeri, kemudian menyimpannya untuk konsumsi dalam negeri (stok dalam negeri) dan tidak mengimpor minyak dengan harga yang mahal.

Sebenarnya pemerintah memiliki banyak alternative lain selain menaikkan harga BBM, paling tidak bekerja sama dengan lembaga-lembaga sosial, panti asuhan dan lembaga masyarakat lainnya untuk dilibatkan dalam mencari alternatif-alternatif yang lebih baik. Kondisi masyarakat miskin pasca kenaikan BBM akan sangat semrawut. Bisa saja massa dimanfaatkan oleh partai yang sebentar lagi melaksanakan Pemilu. Masyarakat akan turun ke jalan dengan kondisi kelaparan, kekesalan, kemarahan.

Kondisi saat ini yaitu harga-harga barang sudah naik sebelum kenaikkan BBM. Partai politik akan membiayai atau memberikan bantuan sebagai jalan untuk mencapai tujuan. Harusnya pemerintah mencari jalan tidak memukul rata. Semakin banyak energi dipakai, maka akan semakin besar subsidi. Kita seharusnya berhemat, karena di Indonesia orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin melarat, sebagai contoh penanganannya, orang kaya yang mempunyai mobil 3 seharusnya meminimalisir pemakaian mobil untuk menghemat konsumsi BBM. Sehingga masyarakat miskin tidak harus menanggung beban mahalnya bahan pangan.

Pemerintah seharusnya mengadakan kampanye untuk menurunkan lifestyle bagi orang-orang kaya di Indonesia. Pertama, memberantas pemikiran-pemikiran yang hanya mengutamakan kepentingan dirinya (pejabat = orang kaya kehidupan mewah). Kedua, tidak mengambil jalan pintas yang gampangan dan tidak mendidik (contoh :BLT) yang tingkat keberhasilannya hanya 35 %. Karena dengan cara seperti itu, orang akan terbiasa untuk dikasih (moral hazard). Ketiga, yaitu adanya kemauan dari pemerintah untuk mencari alternatif yang cerdas. Karena adanya kereseahan di masyarakat, maka mengakibatkan ongkos politik yang juga akan bertambah besar. Angry crowd atau massa yang marah ini seharusnya diredam secepatnya, bukan malah dijadikan tunggangan partai politik atau kalangan tertentu. Keempat, harus adanya kampanye besar-besaran untuk menurunkan penggunaan energy, sehingga beban seharusnya ditanggung oleh orang-orang yang berada di atas (orang kaya, pejabat, dll).

Politik itu memang merupakan gray area. Isu kenaikan BBM gampang sekali untuk dipolitisi. Hasil Paripurna pada 9 April dapat disimpulkan bahwa beberapa Anggota DPR menolak naiknya harga BBM, beberapa anggota lainnya menyimpulkan bahwa itu tindakan yang menunjukkan tidak menuruti komitmen terhadap APBNP. Output atau hasil dari kebijakan untuk menaikkan harga BBM harus benar-benar diambil sebagai opsi terakhir. Pernyataan “Demi kepentingan rakyat” jangan dijadikan sebagai alasan saja, melainkan benar-benar tujuan utamanya. Demonstrasi bukan saja reaksi publik, karena subsidi BBM sebesar 265 trilyun, seakan-akan dinikmati kebanyakan oleh rakyat kalangan atas. Oleh karena itu baik pemerintah, Anggota DPR, mahasiswa, dan masyarakat pada umumnya harus berpikir jernih dan jangan panik serta jangan terburu-buru, karena “terburu-buru itu temannya setan“.

Ditulis oleh : Yoka Pramadi

Mei 20, 2008 Ditulis oleh kskunpad | Kajian, Komunikasi Politik | | Tidak ada Komentar

Dede Terpopuler, Agum ”Ngetop”

Pengantar:
Kemenangan pasangan Ahmad Heryawan–Dede Yusuf (Hade) dalam pilkada Jawa Barat bukan sesuatu yang mengejutkan. Kemenangan Hade telah diprediksi jauh hari sebelumnya dan faktor popularitas calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (Cawagub) sangat menentukan.
Analisa yang dilakukan Kelompok Studi Komunikasi (KS Kom) yang dilakukan oleh mahasiswa Pascasarjana Universitas Padjajaran Bandung sejak beberapa waktu lalu dan diperbarui 3 Februari 2008 silam, hasilnya pasangan Hade tidak tergoyahkan.

POPULER di mata media massa memang tidak menjamin terpilihnya seorang cagub dan cawagub pada sebuah provinsi di Indonesia. Hal ini masih tergantung kepada apakah masyarakat Jawa Barat sudah berpola hidup media oriented atau belum.
Pada suatu daerah yang masyarakatnya belum media oriented, popular di mata media tidak memberikan pengaruh apa-apa, kalaupun ada hanya sedikit sekali. Tetapi di daerah yang masyarakatnya sudah media oriented, kepopuleran seorang tokoh di mata media massa sudah memberikan jaminan suara kemenangan.
Hal itu terbukti pada masyarakat Kabupaten Tangerang ketika terjadi proses pemilihan Bupati Tangerang belum lama ini, di mana artis ibu kota Rano Karno berhasil memenangkan pemilihan untuk menjadi Wakil Bupati. Hal itu juga terjadi pada masyarakat Amerika Serikat, ketika aktor film Terminator Arnold Schwarzenegger memenangkan pemilihan gubernur California.
Sebaliknya, pada masyarakat yang belum media oriented seperti yang terjadi di Kalimantan Barat belum lama ini, ketenaran cagub dan cawagub ternyata tidak berhasil menjadi pemenang, karena masih kalah dengan konsep dan strategi pembai’atan aspek sukuisme, yakni Dayak.
Bagi sebagian masyarakat Jawa Barat, media memang sudah menjadi kebutuhan, tetapi belum media oriented benar, kecuali masyarakat yang tinggal di perkotaan saja, seperti Kota Bandung. Tetapi bisa saja, masyarakat perkotaan yang sering menjadi contoh perilaku masyarakat pedesaan akan memberikan pendapat lain.
Artinya, tingginya popularitas Dede Yusuf yang mengalahkan Agum Gumelar dan Danny Setiawan akan menjadi pemicu baru dalam kancah strategi komunikasi politik di Jabar.

Jika Dede Yusuf bersama Ahmad Heryawan (cagub) bisa memanfaatkannya secara benar, tepat, dan cepat hingga ke pelosok desa, serta sedikit memberikan bobot program dan konsep bagaimana membangun Jabar 2008-2013 nanti, bisa jadi menjadi fenomena baru di Pilkada Jabar.
Dari ketiga pasang kandidat, dari segi konsep, belum ada yang matang dan siap membangun Jabar seperti yang terbaca dalam berita media massa akhir-akhir ini. Secara keilmuan, semua pasangan kandidat pemimpin Jabar ini dianggap tidak siap membangun Jabar secara benar. Yang ada kemudian hanya menyerahkan mekanisme birokrasi dan elemen kepemerintahan Provinsi Jabar yang sudah ada, seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan lainnya.
Akan tetapi, jika Dede Yusuf dan Ahmad Heryawan tidak bisa memanfaatkan momentum ini, yang akan berposisi kuat adalah grafik satu, di mana posisi Agum Gumelar teratas dengan posisi 45,2% dibandingkan Danny Setiawan yang berposisi 43,1%, apalagi jika posisi Ahmad Heryawan hanya 11.7%.
Dalam waktu tiga bulan ke depan tingkat kepopuleran ini tidak mungkin terkejar lagi, kecuali sekadar untuk memperbaiki persentase. Jika hal ini terjadi, Danny Setiawan adalah yang paling memungkinkan untuk menggeser posisi Agum Gumelar, mengingat Danny Setiawan sebagai Gubernur Jabar saat ini bisa menggunakan berbagai kesempatan untuk mempublikasikan dirinya secara besar-besaran.
Sebab bagi Danny, untuk menggeser Agum (jika Agum bersifat statis), karena hanya berselisih 2% yang apabila ditakar dengan berita media massa hanya membutuhkan kegiatan kampanye media secara maksimal selama sebulan saja.
Persoalannya kemudian, apakah para kandidat ini percaya bahwa media massa berperan besar dalam memenangkan mereka dalam bertarung? Apabila melihat kegiatan dan bobot berita yang tersaji pada media massa lokal dan nasional, ketiga pasang kandidat belum merasa perlu adanya penggunaan media massa secara tepat dan benar.
Terkesan, berita-berita tentang para kandidat yang tersaji ke masyarakat tidak terlalu berbobot dan tidak dapat dijadikan kontrak politik bagi masyarakat yang akan memilihnya, sehingga para kandidat dalam memberikan pernyataan pers hanya semata untuk mencari aman agar kelak jika menang tidak menjadi invoice politik baginya.

POPULARITAS

penulisan nama

(Tulisan ini dimuat juga di Halaman Utama Harian Sore Sinar Harapan, Edisi Senin 14 April 2008 )

April 18, 2008 Ditulis oleh kskunpad | Kajian, Komunikasi Politik | | Tidak ada Komentar

“Cyber Global” dan Komunikasi Bisnis

ADA tiga kategori pengguna internet, yakni aktif, setengah aktif, dan pasif. Yang pertama adalah mereka yang berhubungan selama 4 - 8 jam, atau bahkan lebih dalam sehari selama satu minggu. Kelompok setengah aktif adalah mereka yang berinteraksi minimal 1 jam dalam sehari selama satu minggu. Sedangkan mereka yang tergolong pasif adalah mereka yang hanya sesekali membuka situs atau sekadar membuka e-email. Apakah Anda sudah benar-benar mendapatkan hasil finansial dari aktivitas bisnis melalui internet?

Pertanyaan ini saya ajukan kepada Anda yang tergolong pengguna internet aktif. Kelompok pengguna aktif ini sangat penting kita bicarakan karena Anda menggunakan internet bukan sekadar sebagai alat bantu (sekunder), melainkan sebagai sarana primer dalam keseharian. Mulai dari mencari informasi, data, berkomunikasi, hingga mencari nafkah, jam kerja Anda habis untuk berselancar di jagat maya.

Apa kabar jagat maya?

Kalau media tradisional seperti koran, majalah, dan tabloid kita sebut sebagai media informasi yang pasif, maka internet bisa kita sebut media interaktif. Berbagai lembaga, komunitas, dan kelompok berita memungkinkan para anggotanya berbagi cerita, berkeluh-kesah, dialog agama, politik, budaya, sastra, bisnis, dan interaksi yang berurusan dengan ekonomi era global.

Internet, kata Dr. Noreena Hertz (2000), pakar ekonomi politik dari London, “Seperti sebuah game telefon yang bisa dimultifikasi dan dimagnifikasi. Ia menyediakan medium tercanggih untuk kepentingan apa saja. Mulai dari soal bualan hingga dialog pergerakan yang sarat dengan teori-teori konspirasi politik.”

Berbagai pembicaraan tekstual maupun layanan bicara disampaikan melintasi batas demi batas dan zona waktu hampir pada saat yang bersamaan. Pesan-pesan muncul campur aduk sehingga kita sulit membedakan mana yang benar dan mana yang dusta. Dalam situasi seperti itu, peluang untuk berbagai kesempatan menjalin relasi bisnis, persahabatan, bahkan relasi intim terbuka lebar.

Selama seseorang punya tujuan, ide, atau kepentingan yang sama, dipastikan keintiman akan mudah terjalin. Sebaliknya, jika tidak akan kesamaan visi, orang mudah memutuskan komunikasi bahkan dengan teman akrabnya. Kalau Anda termasuk pengguna golongan aktif, apakah Anda sudah mampu menggantungkan kehidupan finansial Anda melalui internet?

Pertanyaan fundamental tersebut saya ajukan mengingat fasilitas internet yang semakin banyak menjangkau orang belum maksimal digunakan sebagai sarana bisnis. Alih-alih untuk sarana bisnis atau mencari ilmu pengetahuan. Saluran cyber bagi kebanyakan pengguna di Indonesia, sebagaimana juga terjadi di negara-negara dunia ketiga lainnya, masih sebatas untuk sarana hiburan, atau paling-paling komunikasi yang tidak produktif.

Karena itu, pertanyaan di atas juga bermakna sebagai gugatan “filosofis” terhadap kekeliruan elementer orang-orang dalam memahami makna komunikasi-interaktif. Kelemahan kita adalah memberlakukan internet sebagai media pasif. Sementara orang-orang di negeri maju, terutama pemilik perusahaan gencar berinteraktif memublikasikan tujuan-tujuan bisnis mereka. Aspek internet, di mata perusahaan adalah mengupas manfaat-manfaat besar yang mereka petik dari revolusi dot.com.

Problem komunikasi

Di negeri kita, internet belum menjadi media interaktif bisnis bukan hanya karena soal minimnya penetrasi infrastruktur internet ke lapisan masyarakat, melainkan juga disebabkan oleh (maaf) “mentalitas” kebanyakan orang dunia ketiga yang gagap berkomunikasi melalui jaringan teknologi mutakhir. Ini bisa kita buktikan belum banyaknya orang yang berhasil bisnisnya di jagat maya.

Secara umum, pengguna internet kita masih mempercayai bahwa uang hanya bisa kita dapatkan dari pekerjaan konvensional melalui dunia nyata. Setidaknya, ada tiga hal yang menghambat proses bisnis di internet, yakni kendala bahasa, kendala logika komunikasi marketing, dan kepemilikan ide barang jualan/jasa.

Tanpa kemampuan bahasa, terutama menulis bahasa Inggris, kita akan kesulitan menawarkan produk atau jasa yang kita miliki. Dari sini, dunia bahasa yang selama ini tidak pernah kita pikirkan sebagai syarat berekonomi tiba-tiba menjadi syarat mutlak, bahkan lebih penting ketimbang ijazsah S-1 atau S-2.

Dalam dunia yang semakin beradab, mutu pengetahuan komunikasi dalam bentuk teks sangat penting. Ini sejalan dengan evolusi peradaban suatu bangsa di mana semakin maju sebuah bangsa akan semakin penting akan kebutuhan bahasa yang bermutu. Dan, bahasa teks adalah puncak dari kualitas manusia berbahasa dibanding bahasa lisan.

Kendala bahasa juga akan mempengaruhi marketing. Sebab sekalipun otak kita sudah dijejali banyak teori dan pengalaman, tapi jika tidak pandai menulis secara baik dan elegan, niscaya penawaran kita dianggap tidak profesional. Kita tahu, lawan bicara kebanyakan juga dari orang-orang yang hidup dalam kultur kehidupan beradab seperti Jerman, Inggris, Jepang, Amerika Serikat, Swiss, Italia yang nota bene punya cita rasa komunikasi yang lebih baik dari penduduk negara dunia ketiga.

“Website”, sekadar pajangan

Yang kita hadapi tentu bukan sikap elitisme berkomunikasi, melainkan lebih pada “etika” komunikasi yang baik dan tepat. Sebab bagaimanapun kita tidak mengenal dengan calon klien. Apa pun yang kita tawarkan, entah jasa atau produk harus melalui cara yang komunikatif dalam bentuk teks. Mulai dari surat, proposal, iklan teks dan gambar hingga advertorial harus kita kemas dengan format yang bermutu.

Namun begitu, sesulit apa pun komunikasi kita dengan mereka masih bisa diatasi melalui praktik dan evaluasi secara terus-menerus. Penulis justru ingin menyatakan, komunikasi sesama orang Indonesia dalam relasi bisnis justru yang paling problematis. Komunikasi teks masih belum menjadi sarana utama. Bahkan, sebuah surat e-mail, belum dianggap surat resmi.

Banyak website perusahaan milik orang Indonesia yang memasang alamat surat masuk. Bahkan di dalamnya memuat pesan seperti, “Silakan kirim surat Anda ke alamat ini. Surat yang masuk akan segera kami jawab.” Untuk yang satu ini, Anda boleh tersenyum bahagia. Tapi tunggulah sampai usia Anda habis, tetap saja tidak akan ada respons.

Bahkan website yang jelas-jelas mencantumkan ikon layanan publik milik pemerintah pusat maupun milik pemerintah daerah tak pernah menjadi jembatan penghubung antara pejabat dengan rakyat. Kebanyakan orang kita menganggap website bukan media komunikasi, melainkan sekadar pajangan, tempat mejeng, iklan monolog yang beku, desain jelek, tak nyaman dibaca.

Ini sangat berbeda jauh dengan perusahaan-perusahan asing yang begitu menghargai penawaran atau sekadar menjawab berbagai pertanyaan dari para kliennya. Entah setuju atau menolak, biasanya mereka tetap memberikan jawaban dengan sopan dan menjelaskan duduk persoalannya. Persoalan di atas seolah-olah remeh, padahal inilah tantangan fundamental dunia bisnis kita sekarang. Tanpa perhatian serius, niscaya langkah kita akan terseok-seok meraih peluang bisnis di era cyber global.***

sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/122006/14/cakrawala/lainnya03.htm

April 7, 2008 Ditulis oleh kskunpad | Communication World, Komunikasi Bisnis | | Tidak ada Komentar

KOMUNIKASI EFEKTIF

Tidak peduli seberapa berbakatnya seseorang, betapapun unggulnya sebuah produk, atau seberapa kuatnya sebuah kasus hukum, kesuksesan tidak akan pernah diperoleh tanpa penguasaan ketrampilan komunikasi yang efektif. Apakah anda sedang mempersiapkan presentasi, negosiasi bisnis, melatih tim bola basket, membangun sebuah teamwork, bahkan menghadapi ujian akhir gelar kesarjanaan, maka efektifitas komunikasi akan menentukan kesuksesan anda dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Kemampuan anda dalam mengirimkan pesan atau informasi dengan baik, kemampuan menjadi pendengar yang baik, kemampuan atau ketrampilan menggunakan berbagai media atau alat audio visual merupakan bagian penting dalam melaksanakan komunikasi yang efektif.

Menurut penulis buku ini tidak ada seorang pun di dunia yang memiliki kemampuan atau pengetahuan dan pemahaman mengenai komunikasi sebaik yang dimiliki oleh William Shakespeare, sastrawan Inggris yang sangat terkenal di abad pertengahan, yang hingga saat ini masih dipandang sebagai referensi utama sastra dunia. Selama berabad-abad banyak sekali komunikator ulung di dunia yang mendapatkan inspirasi dan panduan dari karya-karyanya yang abadi. Buku ini justru menggali lebih dalam karya-karya sang jenius sastra ini dan mengaplikasikan inspirasi dari karya-karya tersebut dalam dunia komunikasi baik personal maupun dalam komunikasi bisnis. Karya-karya Shakespeare ternyata mampu memberikan pelajaran-pelajaran yang bernilai tinggi untuk menjadi komunikator yang efektif dan ulung, baik dalam dunia pekerjaan kita maupun dalam kehidupan pribadi kita.
Ada lima komponen atau unsur penting dalam komunikasi yang harus kita perhatikan yaitu: pengirim pesan (sender), pesan yang dikirimkan (message), bagaimana pesan tersebut dikirimkan (delivery channel atau media), penerima pesan (receiver), dan umpan balik (feedback). Kelima hal inilah yang diuraikan dengan amat menarik melalui penggalan-penggalan frase dari karya-karya Shakespeare tersebut. Seperti penggalan syair berikut yang diucapkan oleh tokoh karakter Ulysses yang diambil dari karya Shakespeare yang berjudul Troilus and Cressida yang berbunyi:
No man is the lord of anything, Though in and of him there be much consisting, Till he communicate his parts to others.

Disinilah letak pentingnya kemampuan mengembangkan komunikasi yang efektif yang merupakan salah satu ketrampilan yang amat diperlukan dalam rangka pengembangan diri kita baik secara personal maupun profesional. Paling tidak kita harus menguasai empat jenis ketrampilan dasar dalam berkomunikasi yaitu: menulis – membaca (bahasa tulisan) dan mendengar – berbicara (bahasa lisan). Bayangkan betapa waktu-waktu kita setiap detik setiap saat kita habiskan untuk mengerjakan setidaknya salah satu dari keempat hal itu. Oleh karenanya kemampuan untuk mengerjakan ketrampilan dasar komunikasi tersebut dengan baik mutlak diperlukan demi efektifitas dan keberhasilan kita.

Menurut Stephen Covey, justru komunikasi merupakan ketrampilan yang paling penting dalam hidup kita. Kita menghabiskan sebagian besar jam di saat kita sadar dan bangun untuk berkomunikasi. Sama halnya dengan pernafasan, komunikasi kita anggap sebagai hal yang otomatis terjadi begitu saja, sehingga kita tidak memiliki kesadaran untuk melakukannya dengan efektif. Kita tidak pernah dengan secara khusus mempelajari bagaimana menulis dengan efektif, bagaimana membaca dengan cepat dan efektif, bagaimana berbicara secara efektif, apalagi bagaimana menjadi pendengar yang baik. Bahkan untuk yang terakhir, yaitu ketrampilan untuk mendengar tidak pernah diajarkan atau kita pelajari dalam proses pembelajaran yang kita lakukan baik di sekolah formal maupun pendidikan informal lainnya. Bahkan menurut Covey, hanya sedikit orang yang pernah mengikuti pelatihan mendengar. Dan sebagian besar pelatihan tersebut adalah teknik Etika Kepribadian, yang terpotong dari dasar karakter dan dasar hubungan yang mutlak vital bagi pemahaman kita terhadap keberadaan orang lain.
Stephen Covey menekankan konsep kesalingtergantungan (interdependency) untuk menjelaskan hubungan antar manusia. Unsur yang paling penting dalam komunikasi bukan sekedar pada apa yang kita tulis atau kita katakan, tetapi pada karakter kita dan bagaimana kita menyampaikan pesan kepada penerima pesan. Jika kata-kata ataupun tulisan kita dibangun dari teknik hubungan manusia yang dangkal (etika kepribadian), bukan dari diri kita yang paling dalam (etika karakter), orang lain akan melihat atau membaca sikap kita. Jadi syarat utama dalam komunikasi efektif adalah karakter yang kokoh yang dibangun dari fondasi integritas pribadi yang kuat.
Kita bisa menggunakan analogi sistem bekerjanya sebuah bank. Jika kita mendeposito-kan kepercayaan (trust) kita, ini akan tergambar dalam perasaan aman yang kita miliki ketika kita berhubungan dengan orang lain. Jika saya membuat deposito di dalam rekening bank emosi dengan Anda melalui integritas, yaitu sopan santun, kebaikan hati, kejujuran, dan memenuhi setiap komitmen saya, berarti saya menambah cadangan kepercayaan Anda terhadap saya. Kepercayaan Anda menjadi lebih tinggi, dan dalam kondisi tertentu, jika saya melakukan kesalahan, anda masih dapat memahami dan memaafkan saya, karena anda mempercayai saya. Ketika kepercayaan semakin tinggi, komunikasi pun mudah, cepat, dan efektif.

Covey mengusulkan enam deposito utama yang dapat menambah rekening bank emosi dalam hubungan kita dengan sesama.

Berusaha benar-benar mengerti orang lain. Ini adalah dasar dari apa yang disebut emphatetic communication- komunikasi empatik. Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, kita biasanya ”berkomunikasi” dalam salah satu dari empat tingkat. Kita mungkin mengabaikan orang itu dengan tidak serius membangun hubungan yang baik. Kita mungkin berpura-pura. Kita mungkin secara selektif berkomunikasi pada saat kita memerlukannya, atau kita membangun komunikasi yang atentif (penuh perhatian) tetapi tidak benar-benar berasal dari dalam diri kita.

Bentuk komunikasi tertinggi adalah komunikasi empatik, yaitu melakukan komunikasi untuk terlebih dahulu mengerti orang lain – memahami karakter dan maksud/tujuan atau peran orang lain. Kebaikan dan sopan santun yang kecil-kecil begitu penting dalam suatu hubungan – hal-hal yang kecil adalah hal-hal yang besar.
Memenuhi komitmen atau janji adalah deposito besar; melanggar janji adalah penarikan yabng besar.

Menjelaskan harapan. Penyebab dari hampir semua kesulitan dalam hubungan berakar di dalam harapan yang bertentangan atau berbeda sekitar peran dan tujuan. Harapan harus dinyatakan secara eksplisit. Meminta maaf dengan tulus ketika Anda membuat penarikan. Memperlihatkan integritas pribadi. Integritas pribadi menghasilkan kepercayaan dan merupakan dasar dari banyak jenis deposito yang berbeda.
Integritas merupakan fondasi utama dalam membangun komunikasi yang efektif. Karena tidak ada persahabatan atau teamwork tanpa ada kepercayaan (trust), dan tidak akan ada kepercayaan tanpa ada integritas. Integritas mencakup hal-hal yang lebih dari sekadar kejujuran (honesty). Kejujuran mengatakan kebenaran atau menyesuaikan kata-kata kita dengan realitas. Integritas adalah menyesuaikan realitas dengan kata-kata kita. Integritas bersifat aktif, sedangkan kejujuran bersifat pasif.
Setelah kita memiliki fondasi utama dalam membangun komunikasi yang efektif, maka hal berikut adalah kita perlu memperhatikan 5 Hukum Komunikasi Yang Efektif (The 5 Inevitable Laws of Efffective Communication) yang kami kembangkan dan rangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH, yang berarti merengkuh atau meraih. Karena sesungguhnya komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain.

Hukum # 1: Respect

Hukum pertama dalam mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektifitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim.
Bahkan menurut mahaguru komunikasi Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Seorang ahli psikologi yang sangat terkenal William James juga mengatakan bahwa ”Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai.” Dia mengatakan ini sebagai suatu kebutuhan (bukan harapan ataupun keinginan yang bisa ditunda atau tidak harus dipenuhi), yang harus dipenuhi. Ini adalah suatu rasa lapar manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan. Lebih jauh Carnegie mengatakan bahwa setiap individu yang dapat memuaskan kelaparan hati ini akan menggenggam orang dalam telapak tangannya.
Charles Schwabb, salah satu orang pertama dalam sejarah perusahaan Amerika yang mendapat gaji lebih dari satu juta dolar setahun, mengatakan bahwa aset paling besar yang dia miliki adalah kemampuannya dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain. Dan cara untuk membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal-hal terbaik adalah dengan memberi penghargaan yang tulus. Hal ini pula yang menjadi satu dari tiga rahasia manajer satu menit dalam buku Ken Blanchard dan Spencer Johnson, The One Minute Manager.

Hukum # 2: Empathy

Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Secara khusus Covey menaruh kemampuan untuk mendengarkan sebagai salah satu dari 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti (Seek First to Understand – understand then be understood to build the skills of empathetic listening that inspires openness and trust). Inilah yang disebutnya dengan Komunikasi Empatik. Dengan memahami dan mendengar orang lain terlebih dahulu, kita dapat membangun keterbukaan dan kepercayaan yang kita perlukan dalam membangun kerjasama atau sinergi dengan orang lain.
Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Oleh karena itu dalam ilmu pemasaran (marketing) memahami perilaku konsumen (consumer’s behavior) merupakan keharusan. Dengan memahami perilaku konsumen, maka kita dapat empati dengan apa yang menjadi kebutuhan, keinginan, minat, harapan dan kesenangan dari konsumen. Demikian halnya dengan bentuk komunikasi lainnya, misalnya komunikasi dalam membangun kerjasama tim. Kita perlu saling memahami dan mengerti keberadaan orang lain dalam tim kita. Rasa empati akan menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun teamwork.
Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima.
Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan ataupun umpan balik apapun dengan sikap yang positif. Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan. Oleh karena itu dalam kegiatan komunikasi pemasaran above the lines (mass media advertising) diperlukan kemampuan untuk mendengar dan menangkap umpan balik dari audiensi atau penerima pesan.

Hukum # 3: Audible

Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun mampu menerima umpan balik dengan baik, maka audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui media atau delivery channel sedemikian hingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini mengacu pada kemampuan kita untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio visual yang akan membantu kita agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik. Dalam komunikasi personal hal ini berarti bahwa pesan disampaikan dengan cara atau sikap yang dapat diterima oleh penerima pesan.

Hukum # 4: Clarity

Selain bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka hukum keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Ketika saya bekerja di Sekretariat Negara, hal ini merupakan hukum yang paling utama dalam menyiapkan korespondensi tingkat tinggi. Karena kesalahan penafsiran atau pesan yang dapat menimbulkan berbagai penafsiran akan menimbulkan dampak yang tidak sederhana.
Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi kita perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan atau anggota tim kita. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme kelompok atau tim kita.

Hukum # 5: Humble

Hukum kelima dalam membangun komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Dalam edisi Mandiri 32 Sikap Rendah Hati pernah kita bahas, yang pada intinya antara lain: sikap yang penuh melayani (dalam bahasa pemasaran Customer First Attitude), sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar.
Jika komunikasi yang kita bangun didasarkan pada lima hukum pokok komunikasi yang efektif ini, maka kita dapat menjadi seorang komunikator yang handal dan pada gilirannya dapat membangun jaringan hubungan dengan orang lain yang penuh dengan penghargaan (respect), karena inilah yang dapat membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dan saling menguatkan.

Aribowo Prijosaksono dan Roy Sembel (co-founder dan direktur The Indonesia Learning Institute – INLINE (http://www. inline.or.id), sebuah lembaga pembelajaran untuk para eksekutif dan profesional).

April 7, 2008 Ditulis oleh kskunpad | Communication World, Kajian | | Tidak ada Komentar

KANDIDAT PEMIMPIN JABAR DINILAI TIDAK SIAP SECARA KONSEP UNTUK MEMBANGUN JABAR

 

Berdasarkan pemantauan Kelompok Studi Komunikasi (KS Kom) Mahasiswa Pascasarjana Universitas Padjdjaran (UNPAD) Bandung dalam aspek komunikasi politik seputar proses pemilihan Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Provinsi Jabar Barat –yang selanjutnya disebut “Kandidat Pemimpin Jabar”—disampaikan sebagai berikut;

1). Para Kandidat Pemimpin Jabar, dinilai tidak siap untuk membangun Jabar secara konsepsional, bahkan ada kesan lebih senang menghindarkan diri dari Invoice Politik (baca; kontrak politik) seperti kebanyakan kandidat pemimpin lainnya di Indonesia, jika kelak mereka berhasil menjadi pemimpin di Jawa Barat. Hal ini lebih disebabkan adanya ketakutan para kandidat tidak mampu memimpin dan mengendalikan sistem Pemerintahan Daerah (Pemda) secara professional dan proporsional, mengingat kuatnya kekuatan dinamika politik yang bersifat formulatif dan terkristalisasi dalam kekuatan situasi dan kondisi komunikasi politik yang tidak sehat. Sehingga mereka lebih senang beranalogi bahwa soal konsep dan perencanaan pembangunan dilakukan oleh lembaga atau institusi kedaerahan yang sudah ada seperti Bappeda, PU dan sebagainya.

2). Akibat dari point 1 tersebut di atas, maka komunikasi politik yang tercipta dalam proses sosialisasi para Kandidat Pemimpin Jabar lebih senang mendengarkan tuntutan rakyat secara parsial –walau hal tersebut tidak jelak—dan penyampaiannya tidak sistematis dan lebih kepada infotaiment politik daripada mengajak rakyat untuk sama-sama memikirkan dan merajut kemakmuran dan kesejehateraan seluruh rakyat Jabar. Dalam konteks ini, para Kandidat Pemimpin Jabar lebih senang melakukan pendekatan secara emosional ketimbang rasional, hal ini akan menimbulkan terjadinya proses kristalisasi massa secara buta dan menciptakan masyarakat pemilih tidak mampu berpikir logis untuk menimbang dan memilih calon pemimpin mereka.

3). Kendati proses pemilihan Kandidat Pemimpin Jabar dapat dikatakan sudah demokrtrais, tetapi proses penetapan calon oleh partai politik yang ada, telah menggiring akan munculnya persoalan baru di Jabar berupa biaya tinggi. Sebab bayaran yang harus diberikan oleh kandidat kepada partai politik, utamanya kandidat dari luar partai, terlalu tinggi dan tidak masuk akal jika melihat gaji yang bakal diterima oleh para kandidat jika kelak mereka terpilih mnenjadi Gubernur dan Wakil Gubernur. Secara angka, jika gaji seorang Gubernur dan Wakil Gubernur Rp 200 juta saja sebulan, maka dalam masa jabatannya, ia hanya mampu mengumpulkan uang Rp 12 milyar jika tidak dipotong keperluan keluarga. Jika digabung dengan pendapatan Wakil Gubernur, maka pendapatan kotor para kandidat kelak hanya sekitar Rp 20 milyar saja. Sedangkan, biaya yang harus disetor kandidat ke partai politik pendukung melebihi angka tersebut, belum lagi termasuk biaya penggalangan masa/kampanye yang membutuhkan biaya puluhan milyar.

Februari 18, 2008 Ditulis oleh kskunpad | Kajian | | Tidak ada Komentar

Teori Etnosentrisme

Oleh

M Solihin Fikri

Jurusan Ilmu Komunikasi (S1) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Masyarakat majemuk yang memiliki latarkebudayaan yang berbeda akan selalu menghadapi masalah etnosentrisme. Perbedaan itu merupakan akibat dari perbedaan folkways yang dimiliki. Keberbedaan ini dapat memicu adanya perpecahan yang mengarah ke disintegrasi antarbudaya. Hal inilah yang kemudian dirasa perlu untuk mempelajari lebih dalam tentang makna-makna yang sama dalam memahami setiap pesan dalam komunikasi antarbudaya.

Konteks Historis

Istilah antarbudaya pertama kali diperkenalkan oleh Edward T.Hall pada tahun 1959 dalam bukunya The Silent Language. Perbedaan antarbudaya dalam berkomunikasi baru dijelaskan oleh David K. Berlo (1960) melalui bukunya The Process of Communication (an introduction to theory and practice). Barlo (1960) menggambarkan proses komunikasi dalam model yang diciptakannya. Menurutnya, komunikasi akan tercapai jika kita memperhatikan faktor-faktor SMCR (Sources, Message, Channel, and Receiver). Antara sources dengan receiver yang diperhatikan adalah kemampuan berkomunikasi, sikap, pengetahuan sistem sosial, dan kebudaayaan. Namun, dalam hal ini, komunikasi antarbudaya yang dijelaskan melalui teori etnosentrisme ini berbasis pada konteks komunikasi kelompok (etnik).

Rumusan objek formal komunikasi antarbudaya baru dipikirkan pada 1970-1980-an. Pada saat yang sama, para ahli ilmu sosial sedang sibuk membahas komunikasi internasional yang disponsori oleh Speech Communication Associaton, sebuah komisi yang merupakan bagian Asosiasi Komunikasi Internasional dan Antarbudaya yang berpusat di Amerika Serikat.

“Annual” tentang komunikasi antarbudaya yang disponsori oleh badan itu terbit pertama kali pada 1974 oleh Fred Casmir dalam The International and Intercultural Communication Annual. Kemudian Dan Landis menguatkan konsep komunikasi antarbudaya dalam Internaional Journal of Intercultural Relations pada 1977. Pada tahun 1979 Molefi Asante, Cecil Blake dan Eileen Newmark menerbitkan sebuah buku yang membicarakan komunikasi antarbudaya, yakni The Handbook of Intercultural Communication. Sejak itu banyak ahli mulai melakukan studi tentang komunikasi antarbudaya, misalnya penelitian Asante dan kawan-kawan pada 1980-an.

Akhir tahun 1983, terbitlah International dan Intercultural Communication Annual yang dalam setiap volumenya mulai menempatkan rubrik khusus untuk menampung tulisan tentang komunikasi antarbudaya. Tema pertama tentang “Teori Komunikasi Antarbudaya” diluncurkan tahun 1983 oleh Gundykunst, disusul tahun 1988 oleh Kim dan Gundykunst, sedangkan tema metode penelitian ditulis oleh Gundykunst dan Kim tahun 1984.Edisi lain tentang komunikasi, kebudayaan, proses kerjasama antarbudaya ditulis pula oleh Gundykunst, Stewart, dan Tim Toomey tahun 1985, komunikasi antaretnik oleh Kim tahun 1986, adaptasi lintas budaya oleh Kim dan Gundykust tahun 1988, dan terakhir komunikasi / bahasa dan kebudayaan oleh Ting Toomey dan Korzenny tahun 1988.

Pada tahun 1990-an, studi-studi komunikasi antarbudaya diperluas meliputi pula studi komunikasi antarbangsa, misalnya Penelitian Komunikasi Kemanusiaan, Monograf Komunikasi, Jurnal Komunikasi, Jurnal Komunikasi Internasional dan Relasi Antarbudaya, Jurnal Studi tentang Orang Kulit Hitam, dan Jurnal Bahasa dan Psikologi Sosial.

McLuhan merupakan orang pertama yang memberikan tekanan ulasan pada hubungan komunikasi antarbangsa karena melihat adanya gejala ketergantungan antarbangsa. Dari gagasannya, muncullah konsep “Tatanan Komunikasi dan Informasi Dunia baru” yang mempengaruhi perkembangan sejumlah penelitian tentang perbedaan budaya antaretnik, rasial, dan golongan di semua bangsa. Faktor-faktor tersebut memantik pesatnya perkembangan teori dan penelitian yang berkaitan dengan komunikasi antarbudaya.

Metateori Komunikasi Antarbudaya

Ada banyak cara memetakan suatu kajian komunikasi antarbudaya. Kajian tersebut dijelaskan dalam pelbagai teori yang tidak hanya berasal dari teori yang pernah dikaji sebelumnya, tetapi juga dari disiplin ilmu sosial lainnya. Teori-teori yang dipinjam dari ilmu-ilmu sosial lainya itu tentunya yang mirip dan bisa menjelaskan proses sosial yang dialami manusia.

Tinjauan ini akan dimulaidengan perspektif psikologis dan sosiologi untuk menerangkan masyarakat majemuk. Herbert Spencer dianggap sebgai orang pemula yang memperkenalkan perspektif evolusi dalam menerangkan perkembangan suatu masyarakat.

 

Konsep Penting dalam Komunikasi Antarbudaya

  1. Kebudayaan

Kebudayaan dapat diartikan sebagai keseluruhan simbol, pemaknaan, dan penggambaran (imej), struktur aturan, kebiasaan, nilai, pemrosesan informasi, dan pengalihan pola-pola konvensi antara para anggota suatu sistem sosial dan kelomppok sosial.

  1. Etnosentrisme

Konsep etnosentrisme seringkali dipakai secara bersama-sama dengan rasisme. Konsep ini mewakili sebuah pengertian bahwa setiap kelompok etnik atau ras mempunyai semangat bahwa kelompoknyalah yang lebih superior dari kelompok lain.

  1. Prasangka

Prasangka adalah sikap antipati yang didasarkan pada kesalahan generalisasi ataua generalisasi yang tidak luwes yang diekspresikan lewat perasaan. Prasangka merupakan sikap negatif atas suatu kelompok tertentu dengan tanpa alasan dan pengetahuan atas seseuatu sebelumnya. Prasangka ini juga terkadang digunakan untk mengevaluasi sesuatu tanpa adanya argument atau informasi yang masuk. Efeknya adalah menjadikan orang lain sebagai sasaran, misalnya mengkambinghitamkan sasaran melalui streotip, diskriminasi, dan penciptaan jarak sosial (Bennet da Janet, 1996).

  1. Streotip

Streotip berasal dari kecenderungan untuk mengorganisasikan sejumlah fenomena yang sama atau sejenis yang dimiliki oleh sekelompok orang ke dalam kategori tertentu yang bermakna. Streotip berkaitan dengan konstruksi imej yang telah ada dan terbentuk secara turn-temurun menurut sugesti. Ia tidak hanya mengacu pada imej negatif tetapi juga positif. Misalnya masyarakat Batak yang memiliki streotip yang kasa da tegas sdangkan masyarakat Jawa dikenal sebgaia masyarakat yang luwes, lemah, dan penurut.

 

Teori Pendukung

 

  1. Teori Pertukaran

  2. Teori Pengurangan Tingkat Ketidakpastian

  3. Teori Analisis Kaidah Peran

  4. Teori Analisis Interaksi Antarbudaya

  5. Teori Analisis Kebudayaan Implisit

 

Teori Etnosentrisme

 

William Graham Sumner menilai bahwa masyarakat tetap memiliki sifat heterogen ( pengikut aliran evolusi).

Menurut Sumner (1906), manusia pada dasarnya seorang yang individualis yang cenderung mengikuti naluri biologis mementingkan diri sendiri sehingga menghasilkan hubungan di antara manusia yang bersifat antagonistic (pertentangan yang menceraiberaikan). Agar pertentangan dapat dicegah maka perlu adanya folkways yang bersumber pada pola-pola tertentu.

Pola-pola itu merupakan kebiasaan (habits), lama-kelamaan, menjadi adat istiadat (customs), kemudian menjadi norma-norma susila (mores), akhirnya menjadi hukum (laws). Kerjasama antarindividu dalam masyarakat pada umumnya bersifat antagonictic cooperation (kerjasama antarpihak yang berprinsip pertentangan). Akibatnya, manusia mementingkan kelompok dan dirinya atau orang lain. Lahirlah rasa ingroups atau we groups yang berlawanan dengan rasa outgroups atau they groups yang bermuara pada sikap etnosentris.

Sumner dalam Veeger (1990) sendiri yang memberikan istilah etnosentris. Dengan sikap itu, maka setiap kelompok merasa folkwaysnya yang paling unggul dan benar. Seperti yang dikutip oleh LeVine, dkk (1972), teori etnosentrisme Sumner mempunyai tiga segi, yaitu: (1) sejumlah masyarakat memiliki sejumlah ciri kehidupan sosial yang dapat dihipotesiskan sebagai sindrom, (2) sindrom-sindrom etnosentrisme secara fungsional berhubungan dengan susunan dan keberadaan kelompok serta persaingan antarkelompok, dan (3) adanya generalisasi bahwa semua kelompok menunjukkan sindrom tersebut. Ia menyebutkan sindrom itu seperti: kelompok intra yang aman (ingroups) sementara kelompok lain (outgroups) diremehkan atau malah tidak aman.

Zatrow (1989) menyebutkan bahwa setiap kelompok etnik memiliki keterikatan etnik yang tinggi melalui sikap etnosentrisme. Etnosentrisme merupakan suatu kecenderungan untuk memandang norma-norma dan nilai dalam kelompok budayanya sebagai yang absolute dan digunakan sebagai standar untuk mengukur dan bertindak terhadap semua kebudayaan yang lain. Sehingga etnosentrisme memunculkan sikap prasangka dan streotip negatif terhadap etnik atau kelompok lain.

Komunikasi antarbudaya dapat dijelaskan dengan teori etnosentrisme seperti diungkapkan oleh Samovar dan Porter (1976). Katanya, ada banyak variable yang mempengaruhi efektivitas komunikasi antarbuadaya, salah satunya adalah sikap. Sikap mempengaruhi komunikasi antarbuadaya, misalnya terlihat dalam etnosentrisme , pandangan hidup , nilai-nilai yang absolute, prasangka, dan streotip.

 

Aplikasi Teori Etnosentrisme pada Fenomena Sosial di Indonesia

 

  1. Konflik dan Kepentingan Sosial

Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia memiliki potensi untuk terjadinya perpecahan. Hal ini terjadi karena adanya sikap etnosenris dan memandang kelompok lain dengan ukuran yang sama-sekali tidak ada konsesus atasnya. Terdapat lebih dari 200 suku dan 300 bahasa. Sehingga Indonesia adalah negara yang sangat kaya ada-istiadat. Namun, kekayaan itu akan menjadi lumpuh ketika perbedaan di antaranya tidak diperkuat oleh sikap nasionalisme. Hal bisa dilhat dari banyaknya konflik antaretnis di tahun 1990-an. Seperti tragedi Sampit, antar suku Madura dan Dayak. Dimana terdapat kecemburuan ekonomi anatar Madura sebagai pendatang dan Dayak sebagai penduduk asli. Tragedi Pos, Ambon, dan Perang adat di Papua.

Sebagai contoh di Papua. Seperti yang diberitakan Kompas Juli 2002, ada 312 suku yang menghuni Papua. Suku-suku ini merupakan penjabaran dari suku-suku asli yaitu Dani, Mee, Paniai, Amungme, Kamoro, biak, Ansus, Waropen, Bauzi, Asmat, Sentani, Nafri, Meyakh, Amaru, dan Iha. Setiap suku memiliki bahasa daerah (bahasa ibu) yang berbeda. Sehingga saat ini tedapat 312 bahasa di sana.

Tempat-tempat pemukiman suku-suku di Papua terbagi secara tradisional dengan corak kehidupan sosial ekonomi dan budaya sendiri. Suku-suku yang mendiami pantai, gunung, dan hutan memiliki karakteristik kebudayaan dan kebiasaan berbeda.. Hal ini pula berimbas pada nilai, norma, ukuran, agama, dan cara hidup yang beranekaragam pula.

Keanekaragaman ini sering memicu konflik antarsuku. Misalnya yang terjadi pada tahun 2001, dimana terdapat perang adat antara suku Asmat dan Dani. Masing-masing-masing-masing suku merasa sukunyalah yang paling benar dan harus dihormati. Perang adat berlangsung bertahun-tahun. Karena sebelum adanya salah satu pihak yang kalah atau semkain kuat danmelebihi pihak yang lain, maka perang pun tidak akan pernah berakhir.

Fenomena yang sama juga banyak terjadi di kota-kota besar misalnya Yogyakarta. Sebagai kota multiultur, banyak sekali pendatang dari penjuru nusantara dengan latarbelakang kebudayaan yang berbeda Masig-masing-masing membawa kepentingan dan nilai dari daerah masing-masing. Kekhawatiran yang keudan muncul adalah adalnya sentiment primordial dan etnosentris. Misalnya mahasiswayang berasal dari Medan (suku Batak) akan selalu berkras pada pendirian dan sikap yang menyebut dirinya sebagai orang yang tegas, berpendirian, dan kasar (kasar dalam artian tegas). Sedangkan Melayu dikatakan pemalu, relijius, dan merasa lebih bisa diterima di mana pun berada. Sedangkan Jawa, akibat pengaruh orde baru, menganggap dirinya paling maju dari daerah lain. Sehingga ketika berhubungan dengan orang luar Jawa, maka stigma yang terbentuk adalah stigma negatif seperti malas, kasar, dan pemberontak.

 

Daftar Pustaka

 

Beamer, Linda dan Iris Varner. (2001). Intercultural Communication in The Global Workplace. New York: McGraw Hill Companies, Inc

 

Effendy, Onong Uchjana. (1992). Spektrum Komunikasi. Bandung: Penerbit Mandar Maju

 

Effendy, Onong Uchjana. (2003). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

 

Griffin, EM. (2003). A First Look at Communication Theory, 5th Edition. USA: McGraw-Hill

 

Liliwer, Alo. (2001). Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Yogyakarta

 

Liliwer, Alo. (2002). Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKis Yogyakarta

 

Liliwer, Alo. (2003). Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Yogyakarta

 

Littlejohn, Stephen W. (2002). Theories of Human Communication. USA: Wadsworth Group

 

Miller, Katherine. (2002). Communication Theories: Perspectives, Processes, and Contexts. USA: McGraw Hill

 

Mulyana, Deddy. (2003). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

 

Disunting Oleh Paulinus Freddy SS.

 

Februari 18, 2008 Ditulis oleh kskunpad | Komunikasi Lintas Budaya | | Tidak ada Komentar

BUMN + BUMR = JABAR INC.

Ketika Bung Karno meminta Kabinet Djuanda untuk mendesain perusahaan milik pemerintah. Timbullah perdebatan sengit  soal konsep mensejahterakan dan memakmurkan rakyat, ditengah Bung Karno sedang sibuk menasionalisasi asset-aset VOC dan perusahaan yang berafiliasi dengan VOC. Perdebatan itu, apakah BUMN tersebut bernama Badan Usaha Milik Pemerintah (BUMP) seperti yang berkembang di dunia barat , dimana pemerintah memiliki saham-saham atas BUMP tersebut. Ataukah dalam bentuk seperti sekarang, yakni Badan Usaha Milik Negara (BUMN), di mana rakyat dan pemerintah sama-sama memiliki perusahaan ini.

                Nuansa yang berkembang ketika itu, adalah masih nuansa berdebatan Bung Karno yang memilih konsep ekonomi sosio-ekonomi sebagai pilihan atas gagalnya system kapitalisme di dunia barat mensejahterakan rakyatnya secara menyeluruh dan gagalnya system komunisme-sosialisme mendongkrak pertumbuhan ekonomi serta mengekang potensi individu masyarakatnya dalam memajukan ekonomi. Konsep sosio-ekonomi Bung Karno, tidak terlalu berbeda denganb Bung Hatta yang tetap kekeh agar system ekonomi kerakyatan yang bentuk koperasi menjadi pilihan konsep ekonomi Indonesia. Akhirnya, sistem keekonomian gotong royong tetap dimasukkan dalam UUD 1945 ketika akan tetapi konsep Bung Karno juga masuk.

                Atas dasar perdebatan tersebut, maka akhirnya diputusakan badan usaha yang menjadi perusahaan adalah BUMN bukan BUMP, dengan harapan BUMN kelak menjadi tulang punggung perekonomian negara yang di dalamnya ada saham-saham rakyat dan saham-saham pemerintah. Akan tetapi dalam perjalannya, utamanya ketika Soeharto menjadi Presiden, maka konsep dan harapan tadi buyar. BUMN yang telah didesain dengan perdebatan panjang, hanya habis dalam tangan seorang jenderal. Soeharto menjadikan BUMN sebagai mesin uang untuk keperluan kekuasaannya, BUMN menjadi sapi perah penguasa dan politisi yang konon kabarnya masih berlanjut hingga kini.

                Benar memang, saat ini BUMN telah melakukan privatisasi. Artinya rakyat diberikan peluang oleh negara untuk memiliki saham-saham BUMN sehat tersebut melalui mekanisme bursa saham. Benar memang, rakyat diberi angin segar dan menjadi dasar bagi teori ekonomi bahwa BUMN tidak lagi sekedar mesin politik penguasa karena sudah ada pemegang saham yang terwakilkan dalam dewan komisaris dan dewan direksi. Akan tetapi, jika mengacu kepada konsep dasar tujuan berdirinya BUMN era Djuanda itu, jelas semakin jauh panggang  dari api. Sebab yang membeli saham-saham BUMN itu, ya tentu saja kalangan berduit, yang kalau diperiksa pencatatannya di Bursa Efek Indonesia (dulu Bursa Efek Jakarta) tak lebih dari 100.000 orang. Kalau pun ada tambahan adalah hot money yang dikelola oleh konsultan asing, sekedar untuk singgah beberapa saat untuk memperoleh capital gain.

                Adalah lucu saja, kemudian PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk, yang kantor pusatnya berada di tengah-tengah jantung ibukota Jawa Barat, tetapi tidak secuil pun saham rakyat Jawa Barat dalam artian sesungguhnya. Lucu saja kemudian, IPTN yang begitu hebat dan menggemparkan dunia lenyap bagai debu ditiup angin. Padahal, jika mengacu kepada konsep BUMN era Bung Karno, maka seharusnya seluruh rakyat Jabar ikut memiliki saham-saham PT. Telkom tersebut. Juga rakyat Jabar harus memiliki atas saham-saham IPTN. Juga rakyat Jabar punya saham atas proyek jalan tol yang ada di wilayah Jabar. Juga, rakyat Jabar punya saham-saham atas PT. Kereta Api Inbdonesia. Dan perusahaan besar lainnya di Jawa Barat. Nasi telah telah menjadi bubur, sistem sudah berjalan. Tidak mungkin lagi, uang orang asing yang telah membeli saham-saham BUMN, kita kembalikan. Apa kata dunia.

                Namun bukan berarti, kita sebagai manusia yang telah dibekali akal, harus pasrah dengan keadaan ini. Kalau rakyat Malaysia beramai-ramai berhimpun diri dalam wadah koperasi, lalu negara memberikan insentif bagus untuk mendukung pembiayaannya. Maka tak heran, apabila sebagian besar saham-saham perkebunan kelapa sawit di Indonesia dikuasai oleh koperasi-koperasi rakyat Malaysia ini. Namun di Indonesia, koperasi telah menjadi momok sebagain besar masyarakat, gara- gara lembaga koperasi telah menjadi perpanjangan tangan elit penguasa Orde Baru untuk menjamah rakyat yang berhimpun di dalamnya. Makanya kala itu, koperasi lebih identik sebagai lembaga penerima “sedekahan politik” penguasa. Sedekahan politik yang dramatis ketika itu adalah Soeharto memerintahkan para konglomerat untuk menyumbangkan 25% sahamnya kepada koperasi-koperasi yang telah diseleksi pemerintah.

                Tak tanggung-tanggung, acara serah terima 25% saham para konglomerat itu dilaksanakan dengan acara kenegaraan di Istana Negara yang disaksikan oleh seluruh dunia melalui siaran langsung TVRI pusat ketika itu. Tetapi taukah Anda, bahwa itu hanya serimonial belaka agar Pak Harto disanjung-sanjung oleh rakyat kecil betapa hebatnya dia memimpin negara. Atau paling tidak rakyat akan berkata, betapa berwibawanya Soeharto sampai-sampai himbauannya saja (bukan aturan hukum) para konglomerat bersedia menyedekahkan 25% sahamnya kepada rakyat melalui koperasi. Cobalah cek, masih adakah 25% saham-saham koperasi tersebut pada perusahaan konglomerat itu? Tentu saja tidak ada lagi, perkiraan saya ketika itu umur saham 25% itu hanya setahun, tahun kedua perkiraan saya 25% saham tersebut akan menghilang atau minimal akan berkurang 50%-nya. Mengapa? Para konbglomerat bersedia memenuhi permintaan Pak Harto, karena aturan main di dalam penguasaan saham-saham perusahaan tidak terlepas dari soal untung dan rugi perusahaan yang bersangkutan.

                Seperti biasanya, jelang akhir tahun (sedikitnya setahun sekali), para pemegang saham mengadakan rapat para pemegang saham atau lebih dikenal RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Dalam forum inilah ditentukan nasib perusahaan, termasuk susunan direksi dan komisaris. Kalau perusahaan rugi, tentu RUPS akan meminta para pemegang saham untuk melakukan setor saham baru untuk mendorong modal perusahaan agar bisa pulih dari kebangkerutan. Anda bisa bayangkan bagaimana nasib saham 25% milik koperasi tadi, kalau seandainya setor harus berjumlah 25% dari yang disepakati oleh RUPS. Kalau Rp 100 milyar saja, maka koperasi harus mengusahakan Rp 25 milyar. Bila tidak setor, maka sahamnya mengecil atau habis. Dan memang itu dunia saham sesungguhnya. Saat itu seluruh konglomerat berbisik-bisik untuk mnemenuhi permintaan Pak Harto, lalu mereka membangkrutkan perusahaannya sehingga sahamnya dapat mereka ambil kembali.

BUMR = Jabar Inc.

Ketika saya membantu memperjuangkan terbentuknya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, saya menulis bahwa kelak rakyat Babel harus mendirikan Babel Inc, agar PT Timah Tbk dapat direngguh sahamnya oleh rakyat Babel, khususnya saham pemerintah pusat yang masih tersisa 65%. Dalam benak saya, wajarlah jika 65% saham pemerintah pusat di PT Timah Tbk tersebut diserahkan kepada rakyat Babel melalui Babel Inc sebagai sebuah perusahaan raksasa yang saham-sahamnya dimiliki oleh seluruh rakyat yang ber-KTP Babel. Mengingat, bumi pulau Babel telah dieksploitasi oleh timah sejak zaman penjajahan Belanda hingga kini. Wajar dalam benak saya, jika sisa kejayaan timah di Babel dimiliki sepenuhnya oleh seluruh rakyat Babel. Sehingga saya membayangkan Babel Inc memliki 65% saham di PT Timah Tbk sebagai saham hibah dari pemerintah pusat.

                Hal serupa pernah saya tawarkan ke rakyat Kalimantan Barat ketika terjadi proses pilkada di daerahj penghasil hasil hutan dan kelapa sawit tersebut. Kalbar Inc, nama lembaga yang saya tawarkan itu. Agar rakyat Kalbar yang umumnya miskin dan tak berdaya itu dapat hidup setara dengan saudaranya di daerah lain. Sebab saya terkejut ketika dulu ada hearing di DPR RI, para menteri Pak Harto menyampaikan angka-angka trilyunan rupiah sebagai hasil hutan Kalbar, tetapi rakyat di bumi Dayak ini tetap saja miskin. Ironis sekali. Tetapi itu kenyataan hidup rakyat Kalbar. Lalu saya tawarkan konsep itu agar Kalbar Inc berdiri. Mereka menyambut baik ide itu, tetapi sayang, isyu kesejahteraan kalah dengan isyu sara yang dikembangkan oleh kandidat lain, bahwa suku Dayak harus kembali menjadi gubernur agar bisa keluar dari penindasan dan keterbelakangan.

                Di Jawa Barat, saya mengusulkan agar seluruh rakyat Jabar berhimpun diri dalam Jabar Inc. Artinya Jabar Inc adalah perusahaan holding company dari Bandung Inc, Bekasi Inc, Cirebon Inc dan sebagainya. Bandung Inc, adalah perusahaan Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) yang saham-sahamnya dimiliki oleh rakyat Bandung sendiri, demikian juga Cirebon Inc dan daerah kabupaten dan kota lainnya di Jabar. Lalu Jabar Inc, menjadi payung trerbesar ekonomi rakyat Jabar. Setelah instrument bisnis ini terbentuk, maka mulailah Pemda bersama DPRD membuat aturan daerah bahwa setiap usaha yang berada di wilayah Jawa Barat dan mengeksploitasi alam Jabar atau bersifat besar dan memonopoli, maka harus menyertakan saham rakyat Jabar melalui Jabar Inc, minimal 25% sebagai saham abadi (saham tidak akan berubah sampai kapan pun).

                Dengan cara demikian, maka rakyat Jabar tidak lagi termarjinalkan ketika setiap ada proyek baru di Jabar. Dan setiap penduduk Jabar adalah para pemegang saham perusahaan-perusahaan besar di Jabar yang saham-sahamnya dapat dijadikan jaminan di bank-bank. Hal serupa juga sudah dilaksanakan oleh Singapura delapan tahun silam. Bahkan Jabar Inc, akan menjadi perusahaan yang memilki asset trilyunan rupiah. Percayalah. Persoalan ekonomi dan bisnis yang mendera rakyat harus dihadapi pula dengan instrument bisnis, buksn dengan politik apalagi unjuk rasa, ialah Jabar Inc itu. Sebab terpaan deras globalisasi, tidak hanya rakyat Jabar yang tidak mampu menghadapinya, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia. Benteng terakhir pertahanan ekonomi rakyat Jabar adalah hanya dengan membuat sistem  Jabar Inc. Jika tidak, maka seluruh asset-aset ekonomi di wilayah Jabar hanya akan menjadi milik asing ketika Pemda mulai menjaring investor-investor asing. Sebab investor bagi Pemda adalah target mati, mutlak ada jika ekonomi daerah harus bergerak. Maukah rakyat Jabar jadi penonton seperti Kalbar dan Babel? (Saf).

Februari 17, 2008 Ditulis oleh kskunpad | Komunikasi Politik | | 1 Komentar

SELAMAT DATANG KSKOM UNPAD!

ksk.jpg

Selamat datang di Blog Kami..Kelompok Studi Komunikasi Pascasarjana Unpad

Kami mengundang siapapun untuk bergabung dan berpartisipasi dalam mencerdaskan bangsa ini dan melepaskannya dari keterpurukan.

Semoga dengan media ini kita bisa maju bersama

Desember 18, 2007 Ditulis oleh kskunpad | Komunikasi Politik | | 2 Komentar